CARA MENGATASI ANAK YANG SUKA MENGANCAM

Tulisan Kreatif Oleh:
Ipung Atria (Penemu Metode FAST)
www.belajarmembaca.co.id


Pak, anak saya kalau kemauannya tidak dituruti dia langsung mengancam. Kursi dilempar, barang-barang di sekitarnya diberantakin. Bagaimana cara mengatasi?

Trus dia itu kalau sepupunya punya barang baru, selalu harus punya juga gak mau kalah saing.

Umur berapa, Bund?
Umur 5 tahun.

Putra atau putri?
Putri.

LOGIKA PERTAMA:

Banyak metode anak untuk bagaimana caranya agar bisa mendapatkan perhatian dari orangtuanya.

Ketika anak masih kecil, ia hanya mampu berkomunikasi melalui tangisan. Ia akan menangis untuk memberitahu orangtua atau pengasuhnya bahwa ia sedang membutuhkan sesuatu untuk dibantu atau dituruti.

MENANGIS –> MEMINTA PERHATIAN

Jika orangtua tidak memenuhinya maka anak akan merasa ditolak, tidak diinginkan, dan merasa tidak dicintai.

Melalui trial and error, anak akan terus mencoba berbagai metode untuk bagaimana caranya agar ia mendapatkan perhatian dari orangtuanya.

Jika ia berhasil mendapatkan cara yang benar-benar jitu, maka ia akan mengulanginya lagi dengan cara yang sama (repetisi). Tindakan yang sama yang terus diulang-ulang akan menjadi kebiasaan dan akan terus ia gunakan untuk mendapatkan perhatian, atau untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.


LOGIKA KEDUA:

Ketika anak masih bayi, ia meminta perhatian dengan cara: menangis-nangis. Diberikan susu. Ternyata masih menangis hebat. Ternyata tidak mau susu. Meminta perhatian terus. Digendong-gendong, diayun-ayun, tetap masih nangis. Eh, ternyata ia habis mengompol banyak. Meminta agar diganti popoknya. Nah, setelah diganti popok oleh orangtuanya, ia tidak menangis lagi. Diam dan tenang. Tidur kembali.

Saat anak menginjak usia 3 tahun, ia meminta perhatian dengan cara menangis dan berguling-guling di lantai. Demi untuk menyampaikan sebuah pesan: “Lihat aku, mama. Aku meminta perhatianmu.”

Saat anak menginjak usia remaja, mulai 12 tahun, ia mulai berganti pola dan metode. Ia harus menemukan cara lain untuk mendapatkan perhatian. Misalnya: bergabung dengan satu kelompok atau geng tertentu, atau terkadang terlibat dengan penggunaan narkoba.


LOGIKA KETIGA:

Kerapkali, anak melakukan metode menangis. Jikalau menangis masih belum mempan, maka akan dilanjutkan dengan mlukok—bahasa Jawa (berlagak mau muntah). Nah, cara mlukok inilah yang kerap menjadi cara jitu. Sehingga, orangtua akan memberikan perhatian dan bersedia memenuhi apa yang diminta oleh anak.

Yang jelas, anak trial and error. Ia akan berusaha terus mencari metode yang jitu agar bisa mendapatkan perhatian dari orangtuanya. Jika berhasil, akan akan mengulanginya lagi (repetisi) di kemudian hari.

Menangis tidak berhasil –> Berlanjut mlukok –> Nah, berhasil. Maka, ia akan megulangi kegiatan mlukok ini di kemudian hari.


LOGIKA KEEMPAT:

Terdapat seorang anak yang demi agar orangtua menuruti keinginan atau permintaannya, misalnya: meminta mainan, ia akan menangis sejadi-jadinya. Ketika menangis tidak berhasil, maka ia akan menjedotkan (menghantam-hantamkan kepalanya) ke tembok. Nah, di saat itulah akhirnya orangtua menyerah. Dan akhirnya menuruti permintaan anaknya untuk membeli mainan. Berangkat ke toko, saat itu juga.

Peristiwa ini akan menjadi rekaman bagi anaknya. Ternyata menjedotkan kepala ke tembok adalah: rumus jitu yang dapat memberikan pencapaian keberhasilan.

RUMUS: Meminta sesuatu –> Menjedotkan kepala ke tembok –> Berhasil

AKAN DIULANGI LAGI (REPETISI: Meminta sesuatu –> Menjedotkan kepala ke tembok –> Berhasil

AKAN DIULANGI LAGI (REPETISI: Meminta sesuatu –> Menjedotkan kepala ke tembok –> Berhasil

AKAN DIULANGI LAGI (REPETISI: Meminta sesuatu –> Menjedotkan kepala ke tembok –> Berhasil


CARA TERAPI:

Cara terapinya sederhana. Yakni: orangtua harus menerapkan satu rumus yang bernama: KONSISTENSI.

Konsistensi adalah: ketegasan. Yang kalau A adalah A. Kalau B adalah B. Kalau C bukanlah Z.

Contoh konkret:

Jikalau orangtua telah sepakat bahwa anak tidak akan dibelikan mainan, maka keputusannya harus tetap konsisten dan tegas: TIDAK AKAN DIBELIKAN MAINAN.

Sampaikan secara baik-baik terlebih dahulu kepada anak, bahwa kali ini masih belum ada acara untuk kegiatan pembelian mainan. Atau masih belum ada anggaran untuk pembelian mainan.

“Nak, mainannya kan sudah banyak tuh. Beli mainannya tidak usah dulu ya … Uangnya ditabung dulu. Ditabung, ditabung, ditabung, nanti kalau sudah banyak, bisa buat beli sepeda.”

Sehingga, ketika anak hingga menjedotkan kepalanya ke tembok sekalipun, maka orangtua tetap harus konsisten tidak akan membelikan mainan (Hingga anak mengancam akan terjun ke samudera sekalipun, orangtua tetap tidak boleh membelikan mainan). Konsisten dengan kesepakatan awal yang disampaikan pada sebelumnya.


LOGIKA KELIMA:

Lalu, bagaimana ketika hal tersebut sudah terlanjur sering kejadian: anak suka menjedotkan kepalanya ke tembok ketika meminta dituruti keinginannya? Seakan-akan hal tersebut telah menjadi habit (kebiasaan).

Ingat, logika keempat, itu adalah repetisi. Pengulangan yang dilakukan berkat dari keberhasilan pada peristiwa-peristiwa sebelumnya.

REPETISI: Meminta sesuatu –> Menjedotkan kepala ke tembok –> Berhasil

Lantas, bagaimana cara terapinya?
Kunci terapinya hanya satu: PUTUS MATA RANTAI ALGORITMANYA

Berikut adalah metode terapi Putus Mata Rantai Algoritma:
Sebelumnya, sampaikan baik-baik bahwa kali ini belum ada anggaran untuk pembelian mainan.

“Nak, jadilah anak yang sabar, jadilah anak yang pintar. Harus bersabar. Ayo berdoa, agar Allah berikan rezeki buat kita agar bisa beli mainan. Ayo, tirukan nak. Ya Allah, berikan kami rezeki yang banyak, agar bisa beli mainan.”

Kemudian, jikalau anak sudah disampaikan secara baik-baik namun masih tetap memberontak dan menjedotkan kepalanya ke tembok, maka segera putus mata rantainya.

Caranya adalah dengan membiarkan ia menjedotkan kepalanya ke tembok hingga ia merasa kapok dengan kelakuannya tersebut. Jika ia terluka, segera selamatkan ia dengan cara memeluk dan mengobatinya. Namun dengan tetap konsisten untuk tidak membelikannya mainan.

Sehingga, algoritmanya akan berubah seketika. Muncul paradigma di dalam otak sang anak, bahwa:

“Sekalipun saya menjedotkan kepala ke tembok selama ratusan kali, orangtua saya tetap tidak akan membelikan mainan. Sesuai kesepakatan awal.”

ALGORITMANYA BERUBAH:

RUMUS: Meminta sesuatu yang orangtua tidak berkenan –> Menjedotkan kepala ke tembok –> Tetap Tidak Berhasil –> Orangtua tetap konsisten dengan kesepakatan awal


LOGIKA KEENAM:

Dalam kegiatan mendidik anak, biasanya dalam satu rumah terdapat 2 peran yang berbeda:

  1. Peran Polisi
  2. Peran Pahlawan

Rekomendasi: Dalam setiap momen, ayah dan ibu harus berperan sebagai peran yang sama. Jikalau sang ibu sedang bertindak sebagai polisi, sang ayah juga harus bertindak sebagai polisi.

Jikalau sang ibu bertindak sebagai pahlawan, sang ayah juga harus bertindak sebagai pahlawan.

Keduanya harus kompak!!

TINDAKAN KESALAHAN:

Tindakan kesalahan pada umumnya adalah: sang ibu bertindak sebagai polisi, namun ayahnya bertindak sebagai pahlawan. Atau sebaliknya.

Contoh: sang ibu sudah konsisten, anak diberikan nasehat agar tidak perlu beli mainan. Namun, ketika anak mengancam, menjedotkan kepala ke tembok, sang ayah tiba-tiba menjadi pahlawan kesiangan. Berpihak kepada anak, langsung diantarkan beli mainan. Menuruti perintah sang anak.

Ini adalah tindakan kontraproduktif, yang akan mengacaukan program algoritma sang anak. Sehingga anak secara otomatis akan menjadi pribadi yang gemar mengancam dengan polanya yang sudah terbukti berhasil.


Silahkan dipraktekkan ilmu-ilmu di atas. Semoga keluarga kita semua menjadi keluarga yang bahagia, tentram, dan sejahtera. Sakinah mawaddah warahmah.

Ilmu tanpa praktek = bagaikan pohon tanpa berbuah.

INFO TAMBAHAN:

Perihal BELAJAR MEMBACA ANAK, kerapkali orangtua memiliki problem yang amat krusial perihal: cara mengajarkan membaca pada anak. Namun, sebuah kabar gembira, karena sekarang telah hadir untuk anda, ayah bunda semuanya, yang ingin memberikan pelajaran Belajar Membaca untuk anak anda.

INOVASI BARU – BELAJAR MEMBACA FAST

  • Revolusi Belajar Membaca Pertama di Indonesia.
  • Permainan Belajar Membaca yang 700 Kali Lipat Lebih Cepat dari Metode Konvensional.
  • 1 Hari Anak Langsung Bisa Membaca.
  • Anak Langsung Bisa Hafal Semua Huruf Dalam Tempo Waktu yang Cepat, Tanpa Perlu Menghafalnya.
  • Inilah Belajar Membaca Unik, Kreatif, dan Inovatif.
  • Out of The Box!! Membongkar pakem-pakem yang sudah ada.
  • Belajar Membaca Anak yang menyenangkan.
  • Dengan Belajar Membaca FAST: anak senang, orangtua senang, guru senang.
  • Inilah jawaban dari problem orangtua yang selama ini kerap menjadikan urusan belajar membaca pada anak sebagai momok yang meresahkan.

Ingin informasi lebih lengkap tentang BELAJAR MEMBACA FAST? Silahkan klik: METODE FAST.

Ikutilah program-program kami dan media-media pembelajaran yang kami miliki. Kami hadirkan untuk anda. Termasuk: Pelatihan-Pelatihan yang kami selenggarakan. Bisa klik pada menu-menu di website ini.

Every Leader is a Reader.
Salam FAST!!

Info Lengkap, Hubungi Kami:
SUPERNOVA CONSULTING
HOTLINE-1: +62 852 3046 8161 (WhatsApp, Call, SMS)
HOTLINE-2: +62 852 3123 6622 (WhatsApp, Call, SMS)
Contact Center: (0341) 754 358

Chat WA FAST: http://bit.ly/BukuFAST
Email: belajarmembacaFAST@gmail.com
Web: www.belajarmembaca.co.id

TOKOPEDIA FAST, Klik: Tokopedia.com/belajarmembaca
SHOPEE FAST, Klik: Shopee.co.id/bacafast


ARTIKEL BOLEH DI-SHARE, dengan tetap mohon dibantu dicantumkan sumber tulisan.


KONSULTASIKAN KEPADA KAMI TENTANG:

  • CARA MENGATASI ANAK YANG SUKA MENGANCAM.
  • cara menangani anak yang suka marah.
  • cara menangani anak yang suka melawan.
  • cara menghadapi anak yang suka marah.
  • kenapa anak suka melawan orang tua.
  • kenapa anak suka melawan.
  • kenapa anak suka mengamuk.
  • kenapa anak suka marah.
  • kenapa anak suka marah-marah.
  • kenapa balita suka marah.
  • kenapa anak suka marah dan memukul.
  • kenapa anak kecil suka marah.
  • kenapa anak mengamuk.
  • anak menangis minta mainan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.